Menengok kisah sejarah dari bengkulu

Terletak di jejeran pesisir barat Pulau Sumatera, Bengkulu sarat hendak aset kolonial serta tepi laut yang melenakan mata. Benteng serta aset budaya dari masa dulu sekali masih terus terpelihara di Bengkulu.

Kota Bengkulu dijuluki bagaikan kota Raflesia. Berawal dari seseorang penjelajah Eropa bernama Joseph Arnold pada dini abad ke- 19 begitu takjub memandang bunga raksasa di pedalaman Bengkulu Selatan. Sampai saat ini, di dataran besar Bengkulu masih banyak ditemukan bunga raksasa yang jadi energi pikat wisatawan.

Kota Bengkulu, daerah seluas 144, 5 km persegi ini ialah ibukota provinsi Bengkulu yang terletak di pesisir tepi laut. Fort Marlborough, benteng yang didirikan oleh East India Company, kongsi dagang Inggris abad ke- 18 masih berdiri kuat di jantung kota. Dalam catatan sejarah,

benteng ini ialah benteng Inggris terbanyak kedua di Asia Pasifik sehabis India, lengkap dengan meriam yang menuju ke Samudera Hindia yang luas.

Kota Budaya serta Sejarah

Di Kota Bengkulu, Rumah Dinas Gubernur dengan rumput hijau serta rusa yang bermain di tamannya jadi energi tarik kota ini. Rumah peninggalan kolonial yang masih terjada ini, tadinya ialah tempat tinggal Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, ketika

pemerintahan kolonial Inggris pada abad ke- 16 hingga abad ke- 18 berkuasa di Bengkulu.

Tepi laut Panjang melintang di barat kota, bangunan- bangunan kolonial masih berdiri, kampung- kampung tua di tengah kota semacam Kampung Tiongkok, Kebun Keling. Rumah pengasingan Presiden Awal Republik Indonesia, Soekarno, masih utuh serta terpelihara buat dilihat oleh turis yang berkunjung ke Bengkulu.

Apabila masuk bulan Muharram, Bengkulu hendak ramai memadati alun- alun kota. Dari bertepatan pada 1 sampai 10 Muharam pada kalender Hijriah, warga hendak mengadakan suatu perayaan. Tabot namanya. Festival Tabot ini sudah jadi ikon pariwisata di Bengkulu yang diadakan masing- masing tahun.

Tradisi Tabot diselenggarakan bagaikan ungkapan duka terhadap tewasnya Imam Husein di perang karbala. Tradisi ini dibawa oleh para pekerja benggali serta Madras yang dibawa oleh IEC serta tentara Inggris untuk bekerja di Benteng Marlborough pada tahun 1713 sampai 1719. Sepanjang beratus tahun, tradisi ini masih terus dirawat oleh warga Bengkulu sampai hari ini.

Di Bengkulu, peninggalan dari masa kemudian dilindungi dengan apik, semacam ombak yang terus pasir dengan deburnya di sejauh Tepi laut Panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *